Showing posts with label SEKITARNYA. Show all posts
Showing posts with label SEKITARNYA. Show all posts

Sunday, May 14, 2017

Sempat Menangis, Ini Yang disampaikan Sri Wahyuni, Pedagang asal Sragen Saat Bertemu Presiden Jokowi di Istana NegaraMomen saat Sri Wahyuni bertemu dan menyampaikan nadarnya di hadapan Presiden Jokowi di Istana Negara

Momen saat Sri Wahyuni bertemu dan menyampaikan nadarnya di hadapan Presiden Jokowi di Istana Negara, Sabtu (13/5/2017). Foto/istimewa
SRAGEN- Setelah menunggu hampir 21 hari, pedagang susu kedelai asal Sragen,Sri Wahyuni (46), akhirnya bisa memenuhi nadarnya bertemu Presiden Joko Widodo alias Jokowi, Sabtu (13/5/2017) siang. Pedagang asal Dukuh Karangasem, Banaran, Sambungmacan itu diterima Presiden di Istana Negara Jakarta, pukul 12.00 WIB.
Ibu satu anak itu berhasil menuntaskan nadarnya bertemu Presiden setelah menempuh jalan kaki Sragen-Jakarta sejak 21 April lalu. Wahyuni diterima di Istana Negara dan ditemui langsung oleh Jokowi.
Kepada Joglosemar, ia mengatakan dirinya diterima oleh Presiden di ruang tamu presiden. Saat pertama kali bertemu, Wahyuni langsung menjabat dan mencium tangan Presiden asal Solo itu.
Bersamaan dengan itu, tangisnya langsung pecah. Ia mengaku terharu dan senang akhirnya nadar yang dilontarkannya tiga tahun lalu sudah terbayarkan.
“Tadi diterima sekitar pukul 12.00 WIB. Saya nggak bisa nahan nangis, saking senengnya bisa ketemu Pak Jokowi. Seneng akhirnya nadar saya bisa lunas, ” paparnya via telepon.
Wahyuni menuturkan sekitar 10 menit dirinya diterima dan bercakap-cakap dengan orang nomor satu di negeri ini tersebut. Dia mengaku menyampaikan beberapa hal ke Presiden.
“Saya hanya bilang, kalau aksi jalan kaki ke Jakarta memang karena membayar nadar saya. Saya tadi juga sampaikan bahwa saya tinggal di Sragen dan punya usaha kecil-kecilan yaitu susu kedelai. Saya bilang agar Pak Jokowi bisa lebih memperhatikan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sragen dan UMKM di indonesia pada umumnya, ” tuturnya.
Setelah mendengar pesan itu, Presiden merespon dengan menanyainya apa lagi yang mau disampaikan. Wahyuni juga meminta agar suatu saat Presiden berkenan singgah ke gubug dan usaha susu kedelainya.
Wahyuni memulai aksi Jalan kaki ke Jakarta pada tanggal 21 April lalu.  Setelah dua pekan,  ia bisa menginjakkan kaki ke Jakarta.  Namun niatnya menuntaskan nadar sowan Presiden masih terkatung-katung karena harus membuat surat permohonan dan menunggu kesediaan maupun waktu longgar Presiden.
Selama sepekan terakhir menunggu panggilan menghadap,  dia terpaksa tidur di musala Mapolsek Metro Gambir. Sebelum akhirnya ia berhasil diterima Presiden Selasa (13/5/2017).(#Wardoyo) 

Di Halim, Presiden Jokowi dihadiahi ayam jago dari warga Sragen

Presiden Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma. ©Setpres RI/Laily
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima ayam jago dan sari kedelai dari seorang wanita asal Sragen, Jawa Tengah, Sri Wahyuni (46). Sri yakin ayam yang dibawanya memang pantas untuk Presiden.

"Saya bawa ayam jago, mudah-mudahan bapak 2019 bisa jadi Presiden lagi," kata dia, kepada Presiden Jokowi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, seperti dilansir Antara, Sabtu (13/5).

Sri datang ke Jakarta dengan berjalan kaki dari rumahnya di Dukuh Bolo, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan dan akhirnya pada hari ke-23 berhasil menemui Presiden secara langsung.

Sri pun menyerahkan ayam jago dan sari kedelai sekaligus meminta Presiden menandatangani 4 buku yang dibawanya. Salah satunya adalah buku agenda mengenai perjalanannya tersebut.

"Sampun nggeh, itu kalau mau foto-foto," kata Presiden dengan tersenyum kepada Sri.

"Saya mau ketemu bapak, sampai di Polsek Gambir saya ditujukkan cara ke Istana lalu saya ditampung di rumah simpatisan 'panjenengan' dari sana saya dijemput Komandan Irman lalu difasilitasi tidur di hotel," tutur Sri berkisah kepada Presiden.

Meski pertemuan itu tidak lebih dari 5 menit, Sri mengaku puas dapat memenuhi nazarnya.

"Karena waktu Pilpres 2014 saya punya nazar jika Pak Jokowi jadi presiden, saya berniat mau jalan kaki dari daerah saya sampai Jakarta sesudah Pak Jokowi dilantik 21 Oktober itu saya matur ke suami saya, tapi beliau tidak mengizinkan karena anak saya baru 4 tahun," kata Sri.

"Berhubung saya bernazar urusan ke Gusti Allah, saya jalankan walaupun di jalan rintanganya tidak karuan, saya disebut orang gila, stres, gembel, pengemis," kata Sri kepada wartawan seusai bertemu dengan Presiden.

Dalam perjalanan, ia membawa topi caping besar warna hijau yang dibuat suaminya bertuliskan 'Panas Udan Tak Lakoni'. Di atas caping direkatkan bendera merah putih berukuran mini. Sri juga membawa ransel yang ditempeli tulisan "Panas Udan Tak Lakoni Sowan Pak Jokowi".

"Saya bismillah mau bayar nazar, jadi urat malu 'tak' putus semua. Alhamdulilah saya selalu didampingi Polri, saya ada stempel surat setiap ke Polsek, Polres, masjid," tambah Sri.

Sri menuturkan untuk tidur ia menumpang di kantor polisi atau musala. Setiba di Jakarta ia menumpang di Polsek Gambir dan pada hari ketiga di sana ia bertemu dengan seorang simpatisan Presiden Joko Widodo bernama Hariyadi yang membantunya untuk bisa menunaikan nazarnya tersebut.

"Sebelumnya saya sudah ke Istana tapi tidak boleh masuk oleh Paspamres tapi saya 'ngeyel' supaya bisa masuk dan memang Paspamres memang hanya menunaikan tugasnya saja jadi dia itu bertindak benar dan Alhamdullilah akhirnya bisa menyerahkan surat ke Sekretariat Negara," ujarnya.

Rute yang ditempuh Sri adalah Sragen, Solo, Boyolali, Salatiga, Ungaran, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Brebes, Cirebon, Purwakarta, Cikampek, hingga Jakarta.

"Itu ayam yang sudah saya pelihara sejak dia kecil, tidak boleh dipotong. Sesampainya saya di Jakarta, suami mengantarkan ke Gambir dan ayam itu sejak pukul 03.00 WIB tadi berkokok terus sampai tadi(sampai di Halim), artinya ayam itu kan memang buat Pak Jokowi," ungkap Sri.

Ibu dari putri tunggal berusia 7 tahun itu juga hanya membawa uang Rp 777 ribu sebagai uang sakunya selama perjalanan dan saat ini ia masih menyisakan uang Rp 21 ribu.

Untunglah untuk tiket pulang ke Sragen ia sudah mendapatkan tiket pesawat yang diberikan oleh Presiden ditambah akomodasi semalam menginap di hotel.

"Tapi namanya orang kampung, saya malah tidak bisa tidur semalaman," kata Sri terkekeh.

[msh]

sumber: https://www.merdeka.com/

Saturday, May 13, 2017

Liga 2: Sragen United Berambisi Tekuk Persiba di Ngawi

Sragen United berambisi mengalahkan Persiba Bantul di Stadion Ketonggo, Ngawi. (Bola.com/Ronald Seger)
Bola.com, Ngawi - Sragen United bertekad menghapus hasil minor saat menjamu Persiba Bantul pada lanjutan Grup 3 Liga 2 di Stadion Ketonggo, Ngawi, Minggu (14/4/2017).
Skuat asuhan Jaya Hartono sebelumnya mengalami dua kekalahan beruntun melawan Persis Solo dan PSIS Semarang. Tim Laskar Gajah Purba terpaksa mengungsi ke Ngawi karena kandang mereka, Stadion Taruna tak mendapat izin menggelar laga oleh operator kompetisi.
Sragen United menjalani sesi uji lapangan sehari lebih cepat atau Jumat (12/4/2017). Sebab Stadion Ketonggo jadi arena laga Grup 5 antara tuan rumah Persinga Ngawi melawan Persatu Tuban, Sabtu (13/4/2017)."Semua pemain dalam kondisi fit dan siap diturunkan. Tinggal melihat kondisi terakhir mereka sebelum pertandingan," kata Jaya Hartono.
Jaya menyebut, kondisi lapangan cukup keras sehingga pantulan bola lebih tinggi. Meski demikian, kondisi tersebut tak dipermasalahkan sang juru taktik, mengingat beberapa stadion lain juga memiliki kualitas yang sama.
"Kami tetap bermain seperti biasanya. Umpan-umpan pendek cepat tetap kami andalkan di pertandingan besok," tukas Jaya.
Juru taktik asal Medan itu sedikit lega dengan kembalinya striker Jodi Kurniadhi. Mantan pemain PSS Sleman yang sudah menceploskan satu gol itu telah pulih dari sakit tipus. Jodi diharapkan membuat lini depan Sragen United lebih bertaji.
Jaya berharap, meski bermain di Ngawi, pemain Sragen United tetap menunjukkan semangat tinggi. Status tuan rumah harus dimaksimalkan untuk meraih kemenangan setelah gagal di dua laga sebelumnya. "Status kami adalah tuan rumah, sehingga wajib mendapatkan tiga poin," tegas Jaya.

sumber: www.bola.com/

Tangisan Ibu Penjual Susu Kedelai Saat Bertemu Presiden Jokowi

Foto: Bartanius Dony/detikcom
Jakarta - Tangisan Sri Wahyuni (46), seorang ibu pengusaha susu kedelai pecah saat dirinya bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo. Bagaimana tidak, ia memenuhi nazarnya berjalan kaki dari rumahnya di Sragen menuju Jakarta untuk bertemu sang presiden.

Air matanya mengalir sesaat sebelum Jokowi meninggalkan Jakarta untuk ke Beijing mengikuti KTT OBOR. Sri diterima oleh Jokowi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (13/5/2017).
Foto: Bartanius Dony/detikcom

Tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya ketika bertemu Jokowi. "saya doakan Bapak (Jokowi), 2019 nanti bisa menjadi presiden lagi," ucapnya di depan Jokowi.

"Amin," jawab Jokowi.



Foto: Bartanius Dony/detikcom
Jokowi pun tidak banyak berkata-kata saat ditemui oleh Sri. Ia lantas memberi tanda tangan di barang-barang yang dibawa oleh Sri.

Di antaranya ada empat buku yang merupakan buku harian Sri saat berjalan kaki dari Sragen menuju Jakarta sejak 21 April lalu. Tidak lupa, ia pun memberi sari kedelai dan seekor ayam kesayangannya kepada mantan walikota Solo itu.

Berbekal uang Rp 777 ribu, Sri sampai Jakarta dengan menyisakan Rp 21 ribu.

Sri berharap di lain waktu, presiden idolanya tersebut bisa mampir ke rumah usaha susu kedelai miliknya di Sragen, Jawa Tengah.

"Harapan saya, tahun ini atau kapan, Pak Jokowi berkenan untuk berkunjung ke gubuk produksi saya," katanya.

Selama menempuh perjalanan, ia mengenakan topi buatan suaminya untuk melindungi dari terik matahari. Dia juga membawa ransel untuk barang yang ia bawa.

Ia bersyukur bisa bertemu dengan Jokowi meski hanya dalam hitungan menit. 
(brt/erd)


sumber: https://news.detik.com/

Gubernur Ganjar Janji Naikkan Anggaran Jalan


HADIRI PENGAJIAN—Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (ketiga dari kanan) menghadiri pengajian di Ponpes Mondokan, Kamis (11/5/2017).
SRAGEN—Setahun menjelang pelaksanaan pemilihan gubernur (Pilgub) Jateng, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mulai mengumbar janji untuk menaikkan anggaran perbaikan jalan di Sragen tahun depan. Hal itu disampaikan menyusul pengamatannya, Kamis (11/5/2017) yang melihat masih banyak jalan di Sragen rusak.
Pernyataan itu dilontarkannya saat menghadiri Pengajian Akbar Akhirussanah Khataman XIII dan Harlah NU di Ponpes Manba’uth Thoyibbah, Sempurejo, Jambangan, Mondokan, kemarin. Di hadapan ribuan jemaah yang hadir, Ganjar mengakui dalam beberapa hari terakhir dirinya sudah berkeliling wilayah Jateng.
“Dan saya melihat Sragen ini jalannya rusak. Tapi jangan khawatir saya sudah berkoordinasi dengan Pemkab Sragen dan mulai tahun ini anggaran pembangunan jalan dinaikkan,” paparnya.
Ia juga mengatakan peningkatan anggaran itu dilakukan untuk memperbaiki jalan-jalan rusak di Sragen sehingga ke depannya bisa lebih baik lagi. Dalam kesempatan itu, Ganjar juga berpesan agar masyarakat kompak dan kuat.
Ia juga berpesan sebagai warga NU dan masyarakat Indonesia akan tetap kuat apabila kompak. Hanya dengan kekompakan ia meyakini apapun yang berusaha menghancurkan bangsa tidak akan bisa. “Kalau kita kompak dan kuat, tetap akan kuat biarpun siapa pun yang akan menggoyangnya,” lanjutnya.
Sementara, pengurus NU Sragen, KH Agus Karim yang memberikan tausiah memberi wejangan agar tidak menghapus persaudaraan karena sebuah kesalahan, tapi hapuslah kesalahan demi memupuk persaudaraan. “Kita kalau menjadi pejabat maka kita harus bisa melindungi rakyatnya dengan mendengarkan aspirasi rakyat dan membantu masyarakat dengan tanpa memandang latar belakang,” ungkapnya. Acara tersebut juga dihadiri Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati bersama sejumlah pejabat Muspida.# Wardoyo

Kemenkeu Sebut Ada Rp 38 M Dana Sertifikasi Guru di Sragen Masih Ngendon

SRAGEN- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merekomendasikan kepada Pemkab Sragen melalui Dinas Pendidikan (Disdik) segera mencairkan dana kekurangan tunjangan sertifikasi tahun 2011-2012 kepada guru penerima.
Pasalnya, dana sertifikasi yang kini menumpuk dan menjadi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) APBD sebesar Rp 38 miliar itu akan menjadi kesalahan ketika tidak dibayarkan.
Rekomendasi itu disampaikan pimpinan DPRD Sragen berdasarkan hasil
konsultasi ke Kemenkemu pekan lalu.
Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang
Widjo Purwanto mengungkapkan perintah pencairan itu diungkapkan pejabat Kemenkeu saat dimintai konsultasi perihal Silpa Rp 38 Miliar dari dana sertifikasi yang saat ini ada di APBD Sragen.
“Kemarin dari pejabat di Kemenkeu menyampaikan bahwa dana Silpa sertifikasi itu harus segera dicairkan sesuai dengan data guru penerima yang dulu masih kurang pembayarannya. Kalau enggak salah di tahun 2011 dan 2012 masih ada dua bulan yang belum dibayarkan karena dananya kurang,” paparnya Kamis (11/5/2017).
Dengan rekomendasi itu, pihaknya sangat berharap Pemkab dan Disdik mematuhi serta segera membayarkan. Sebab selain dananya sudah ada, jika Silpa itu dibiarkan terus menerus maka justru akan menyusahkan Kabupaten Sragen lantaran mengurangi jatah Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pusat.
“Dana Silpa Sragen yang kemarin sebesar Rp 160 M dan Rp 38 M dari sertifikasi itu, di mata pusat dianggap Sragen punya duit banyak sehingga akhirnya jatah DAK Sragen jadi berkurang. Padahal faktanya
Silpa itu tidak bisa digunakan untuk apa-apa karena peruntukkanya memang untuk sertifikasi,” terangnya.
Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Tatag Prabawanto membenarkan adanya Silpa sebesar Rp 38 miliar dari dana serrtifikasi itu. Menurutnya, Silpa itu memang terjadi karena sisa transfer dana sertifikasi dari pusat yang kemudian terakumulasi dari tahun 2011
sampai saat ini.
Perihal rekomendasi Kemenkeu untuk segera membayarkan, menurutnya hal
itu juga sangat tergantung dari aturan pusat. Sebab, kendati dana dan data gurunya ada, daerah tidak bisa serta merta membayarkan tanpa ada aturan tertulis atau resmi dari Kemenkeu.
“Nggak bisa serta merta. Daerah siap saja mencairkan, tapi harus ada surat atau aturan resminya dari Kemenkeu. Kalau enggak ada, daerah juga nggak akan berani mencairkan. Kalau langsung dibayarkan dasarnya apa, nanti malah bisa kesalahan karena itu sumbernya juga dari pusat,” tegasnya.(#Wardoyo)

30 Tahun Ganti Rugi WKO Sragen Belum Dibayar, Gubernur Ganjar Tanggapi Dingin

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbincang dengan tokoh masyarakat seusai acara. (M Khodiq Dugri/JIBI/Solopos)
Ganti rugi Waduk Kedung Ombo (WKO) kembali disoal.
Solopos.com, SRAGEN — Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menanggapi dingin terkait masalah ganti rugi proyek Waduk Kedung Ombo (WKO) yang sudah lebih dari 30 tahun belum dibayarkan kepada warga.
Ganjar mengaku tidak tahu menahu terkait adanya warga Sragen, Boyolali dan Grobogan yang masih menuntut ganti rugi lahan mereka yang digusur akibat proyek WKO pada 1985.
“Proyek Waduk Kedung Ombo itu kan sudah sejak zaman dal. Itu kasus yang sangat lama, lalu mengapa baru sekarang minta ganti rugi?” ujar Ganjar saat ditemui Espos pada acara Pengajian dan Selawat bersama Habib Syech di Pondok Pesantren Manba’uth Thoyyibah di Dusun Sempurejo, Desa Jambangan, Mondokan,Sragen, Kamis (11/5/2017).
Ganjar mengaku belum mendapat laporan adanya ratusan warga Kecamatan Miri dan Sumberlawang yang mendatangi Kantor Provinsi Jateng pada 26 April lalu. Saat ditanya apakah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng bakal memperjuangkan keinginan warga untuk mendapat ganti rugi atas proyek WKO, dia belum bisa memastikan.
“Akan kami pelajari dulu. Saya perlu paham apa permasalahannya. Saya belum tahu masalahnya seperti apa? Warga mana saja yang meminta ganti rugi itu, saya juga belum tahu. Saya harus cek dan pelajari dulu,” jelas Ganjar.
Isu Besar
Ganjar mengaku ada sejumlah isu besar yang belakangan banyak dipersoalkan warga. Selain masalah ganti rugi proyek WKO itu, isu lain adalah menyangkut rencana pembangunan pabrik semen di Kendeng, Rembang dan dugaan korupsi proyek e-KTP.
“Saya tidak tahu mengapa masalah itu baru muncul ke permukaan akhir-akhir ini. Saya tidak ingin menyimpulan ada apa ini? Ada motif apa di balik itu? Saya tidak tahu,” terang Ganjar.
Seperti diberitakan Solopos, ribuan warga di Kecamatan Miri dan Sumberlawang menuntut pembayaran ganti rugi lahan yang digunakan untuk proyek pembangunan WKO pada 1984/1985 silam. Sebanyak 120 warga dengan menumpang tiga bus mendatangi DPRD Provinsi Jawa Tengah, Rabu (26/4), untuk meminta kejelasan ganti rugi itu.
Tokoh masyarakat Desa Gilirejo Lama Kecamatan Miri, Faris Rajanto, yang ikut serta ke Semarang mengatakan rombongan warga ditemui perwakilan anggota DPRD Provinsi Jateng.
“Target kami bertemu dengan DPRD Provinsi Jateng adalah untuk memastikan siap tidak mereka diajak bicara tentang permasalahan WKO yang sampai sekarang belum kelar. Kalau Gubernur dan DPRD siap, kami akan sediakan data jumlah warga yang digusur karena proyek WKO, berikut luasan lahan mereka yang hilang karena proyek itu,” jelas Faris.
Faris mengaku kehilangan tanah seluas lima hektare akibat proyek WKO itu. Sebanyak tiga hektare di antaranya merupakan milik orangtuanya. Pada saat itu, warga diminta menyerahkan tanah mereka kepada pemerintah tanpa ada ganti rugi sepeser pun.
“Kami hanya diberi uang Rp200 yang diletakkan dalam amplop. Di bagian luar amplop itu ada tulisan jer basuki mawa beo [keberhasilan selalu butuh perjuangan]. Maksudnya mungkin warga diminta ikhlas. Warga lalu diminta tanda tangan. Jika tidak mau tanda tangan akan dianggap bagian dari anggota PKI,” ujar Faris.
Faris menjelaskan penyelesaian masalah ganti rugi lahan yang terkena proyek WKO merupakan salah satu janji kampanye dari Ganjar Pranowo pada saat mencalonkan diri sebagai gubernur. Dia menyayangkan janji kampanye itu hingga kini belum ditepati.
“Dulu dia berjanji masalah ini akan diselesaikan dalam waktu 100 hari kerja setelah jadi gubernur. Nyatanya, sampai sekarang, audiensi saja belum pernah. Tidak hanya gubernur, hampir semua anggota DPRD Jateng dari Dapil Sragen, Karanganyar dan Wonogiri juga menjanjikan hal sama. Tapi, semua janji itu tidak ditepati,” keluh Faris.

Setelah Pemain, Giliran Panpel Sragen United Disanksi Komdis PSSI

Ratusan Pasoepati terlihat berada di luar pagar lantaran tribun dinilai terlalu sempit untuk menampung ribuan Pasoepati yang datang dalam laga di Stadion Taruna SRagen, Minggu (30/4). Foto : Nofik Lukman Hakim
SOLO—Dampak pelaporan yang disampaikan manajemen Persis Solo kepada Komisi Disiplin (Komdis) PSSI terkait laga melawan Sragen United ternyata tidak berhenti sampai sanksi kepada penjaga gawangnya, Andi Setiawan.
Dalam sidang ketiga Komdis PSSI, Rabu (10/5/2017), diputuskan Panitia Pelaksana (Panpel) Sragen United dikenakan sanksi denda Rp 10 juta.
Dalam sidang yang dipimpin langsung oleh Ketua Komdis, Asep Edwin, lalu ada Wakil Ketua Umar Husin, dan anggota yakni Yusuf Bachtiar, Dwi Irianto, Eko Hendro Prasetyo, tersebut, turut dihadirkan pihak Panpel Sragen United yang diwakili oleh Ronald Seger Prabowo selaku bidang humas.
“Saya mewakili Panpel Sragen United memenuhi panggilan Komdis PSSI di Jakarta. Dan di sana saya mencoba menjelaskan langsung kepada Komdis tentang apa yang sebenarnya terjadi saat laga melawan Persis Solo tersebut,” ujar Ronald, Kamis (11/5/2017).
Dalam sidang tersebut, Komdis PSSI akhirnya memutuskan Panpel Sragen United telah lalai dalam mempersiapkan pertandingan di Stadion Taruna, Sragen, pada 30 April lalu tersebut.
Pada laga lanjutan Liga 2 grup 4 bertajuk Derby Surakarta itu terjadi insiden yang melibatkan kiper Laskar Gajah Purba dengan pemain gelandang Persis Solo, Dedi Cahyono Putro. Saat itu, kepala Dedi terbentur lutut sang kiper tuan rumah hingga sempat tidak sadarkan diri.
Namun saat akan dilarikan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut, di pinggir lapangan tidak tersedia mobil ambulan. Hal tersebutlah yang kemudian dinilai Komdis sebagai bentuk kelalaian penyelenggara pertandingan.
“Panpel kami dinilai tidak siap dalam menggelar sebuah pertandingan, ditambah lalai dalam penanganan pemain saat cedera di lapangan, sehingga akhirnya dijatuhi denda,” tambah Ronald.
Sang kiper sendiri sudah dijatuhi sanksi denda Rp 20 juta dan larangan beraktivitas di lingkungan PSSI selama dua bulan.
“Ini bisa jadi pembelajaran bagi kami karena memang baru tahap belajar menggelar sebuah pertandingan di level Liga 2. Yang jelas, kami cukup beruntung karena hanya dijatuhi sanksi denda, bukan sanksi bermain tanpa penonton,” tandasnya.
Agni Vidya P

Thursday, May 11, 2017

Persiba Bantul Ubah Skema Permainan Hadapi Sragen United

Logo Persiba Bantul
BANTUL - Pelatih Persiba Bantul, Purwanto Suwondo, mengisyaratkan akan mengubah strategi saat menghadapi tuan rumah Sragen United.
Jika saat meladeni Persis Solo menerapkan skema 3-5-2, dalam laga tandang kedua nanti kemungkinan akan memasang empat bek di lini pertahanan.
“Pola kemungkinan bisa berubah, akan disesuaikan dengan kondisi pemain. Keputusannya Jumat nanti,” katanya saat dihubungi oleh wartawan, Selasa (9/5/2017).
Perubahan strategi ini menurut pelatih asal Lampung tersebut akan disesuaikan dengan gaya permainan tuan rumah yang memiliki tipikal keras dan mengandalkan kecepatan.
Untuk itu, memang diperlukan perubahan strategi untuk mengantisipasi permainan lawan.
Namun sebelum memutuskan skema yang akan diterapkan, tim pelatih menurut Purwanto akan memperlajari gaya permainan anak asuh Jaya Hartono tersebut.
Dengan mempelajarinya, tim pelatih bisa mencari sosok pemain dan skema yang paling tepat untuk menghadapi laga tandang kedua nanti.
“Masih kami pelajari pola permainan Sragen,  Jumat besuk baru bisa kita tentukan skema yang akan kita terapkan,” jelas dia.
Untuk skuad yang akan disiapkan di laga tandang nanti, Purwanto mengaku tidak akan jauh beda dengan laga selanjutnya.
Di lini belakang, komposisi pemain bertahan kemungkinan akan tetap dipertahanankan yakni Panji Susanto, Susatria Nova Pradana, David dan Slamet Widodo.
Sementara sebelum menjalani laga tandang melawan Sragen, tim pelatih akan memaksimalkan waktu yang tersisa untuk memperbaiki semua lini.
Harapannya, dalam laga nanti semua pemain benar-benar sudah siap sehingga bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Pelatih asal Lampung tersebut mengungkapkan di laga melawanSragen United nanti timnya menargetkan bisa mencuri poin.
Apalagi Persiba mendapatkan keuntungan laga tandang tersebut tidak akan digelar di Sragen, melainkan di Stadion Ketonggo, Ngawi, Jawa Timur.
Diharapkan laga tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk bisa mencuri poin karena Sragen United tidak bisa bermain di Stadion Taruna yang selama ini menjadi kandangnya.
“Laga besuk kita targetkan bisa curi poin,” imbuh dia.

Saturday, May 6, 2017

Kiper Sragen United Dijatuhi Sanksi Berat, Jaya Hartono Pasrah

PERSIS IMBANG- Panpel pertandingan dan sejumlah offisial menarik penjaga gawang  Andi Setiawan yang telibat perselisihan dengan penonton saat masih memperkuat Persiba Bantul, beberapa waktu lalu.
SOLO – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi berat kepada kiper Sragen United, Andi Setiawan.
Dalam sidang yang digelar di Kantor PSSI Jakarta, Kamis (4/5/2017), Andi dilarang bermain selama dua bulan dan wajib membayar denda Rp 20 Juta.
Sanksi yang didapat Andi tak lepas dari ulahnya yang dengan sengaja mengarahkan lututnya ke arah pemain Persis Solo, Dedi Cahyono Putra dalam laga lanjutan Liga 2 di Stadion Taruna Sragen, Minggu (30/4) lalu.
“Pemain Sragen United Sdr. Andi Setiawan dikenakan sanksi larangan beraktifitas sepakbola di lingkungan PSSI selama 2 bulan dan denda Rp. 20.000.000, karena menendang pemain Persis Solo Sdr. Dedi Cahyono Putra dengan lutut,” tulis PSSI dalam situs resminya, Jumat (5/5/2017).
Sanksi tersebut membuat Andi akan absen saat Sragen United melakoni partai kandang melawan Persiba Bantul pada 14 Mei dan laga tandang lawan PSIR Rembang pada 21 Mei mendatang. Praktis, Sragen United tinggal menyisakan dua kiper muda, Nor Khalid dan Fajar.
Pelatih Sragen United, Jaya Hartono mengaku pasrah dengan sanksi yang dijatuhkan PSSI. Kini, tim pelatih akan fokus untuk menggenjot kesiapan Kholid dan Fajar. Pelatih asal Kediri ini berharap keduanya mampu menampilkan permainan terbaik.
“Mereka akan kita persiapkan. Semoga absennya Andi membuat mereka punya motivasi lebih menyambut pertandingan berikutnya,” tutur Jaya.
Selain Andi, ada pula beberapa pemain yang dijatuhi sanksi oleh Komdis PSSI. Berikut daftarnya :
1. Pemain PSM Makassar Sdr. Ferdinand Sinaga berupa sanksi larangan bermain sebanyak 4 (empat) Kali yaitu pada pertandingan PSM Makassar vs Persija Jakarta, tanggal 30 April 2017, Perseru Serui vs PSM Makassar, tanggal 4 Mei 2017, PSM Makassar vs Arema FC, tanggal 10 Mei 2017, PS, TNI vs PSM Makassar, tanggal 15 Mei 2017 dan denda sebesar Rp.10.000.000, karena melakukan pemukulan terhadap pemain Persela Lamongan Sdr. Ivan Carlos Coelha.
2. Panitia Pelaksana Pertandingan Persegres Gresik United dikenakan sanksi denda Rp. 25.000.000,- karena supporter Persegres melakukan pelemparan bus semen padang hingga bus kaca pecah dan salah seorang pemain Semen Padang terluka
3. Pemain PS. TNI Sdr. Abduh Lestaluhu berupa sanksi larangan bermain sebanyak 5 (lima) kali. Yaitu satu (1) pada pertandingan PS. TNI vs Persiba Balikpapan, tanggal 5 Mei 2017 (karena langsung menjalani sanksi kartu merah dari wasit) serta empat (4) pertandingan lain sanksi tambahan dari Komdis PSSI: Barito Putra vs PS. TNI, tanggal 9 Mei 2017, PS. TNI vs PSM Makassar, tanggal 15 Mei 2017, Madura United vs PS. TNI, tanggal 19 Mei 2017, juga PS. TNI vs Persela Lamongan, tanggal 27 Mei 2017 dan juga denda sebesar Rp.10.000.000, karena melakukan pemukulan terhadap pemain Bhayangkara FC Sdr. Thiago.
4. Pemain PS. TNI Sdr. Manahati Lestusen dikenakan sanksi berupa Peringatan Keras karena menantang wasit agar memberikan dirinya Kartu.
5. Panitia Pelaksana Pertandingan Bhayangkara FC dikenakan sanksi denda Rp. 10.000.000, karena penonton melakukan pelemparan ke arah bench PS. TNI.
6. Panitia Pelaksana Pertandingan Persib Bandung dikenakan sanksi denda Rp. 10.000.000, karena penonton menyalakan flare.
7. Panitia Pelaksana Pertandingan Persiba Balikpapan dikenakan sanksi denda Rp. 10.000.000, karena penonton masuk dan memadati sampai ke sentel ban.
8. Tim Persikabo Bogor dikenakan sanksi denda Rp.10.000.000,-karena terbukti supporter persikabo menyalakan flare saat tandang melawan persita Tangerang.
9. Pemain Persiraja Sdr. Farry Komol dikenakan sanksi larangan beraktifitas sepakbola di lingkungan PSSI selama 2 bulan karena menyiram air ke wasit.
10. Tim Persiraja dikenakan sanksi denda Rp. 20.000.000, karena terbukti secara bersama-sama para pemain mengerumuni wasit melakukan protes berlebihan sampai wasit terdesak keluar dari lapangan.
11. Pemain 757 Kepri Sdr. Gerald Pangkali dikenakan sanksi larangan beraktifitas sepakbola di lingkungan PSSI selama 2 bulan dan denda Rp. 20.000.000, karena memukul dan menendang pemain PSPS Pekanbaru Sdr. Defri Riski.
12. Pemain Sragen United Sdr. Andi Setiawan dikenakan sanksi larangan beraktifitas sepakbola di lingkungan PSSI selama 2 bulan dan denda Rp. 20.000.000, karena menendang pemain Persis Solo Sdr. Dedi Cahyono Putra dengan lutut.
13. Tim Persip Pekalongan dikenakan sanksi denda Rp. 10.000.000, karena terbukti supporter Persip menyalakan flare saat tandang melawan Persibat Batang.
Nofik Lukman Hakim

Wasit Persis vs Sragen United Terancam Sanksi Seumur Hidup



Departemen Wasit PSSI Ngadiman Asri menyebut telah memberikan hukuman sementara kepada Bambang Sutiono, wasit yang memimpin laga Persis Solo melawan Sragen United di kompetisi Liga 2 2017. Bambang dinilai lalai sehingga menyebabkan nyawa seseorang hampir hilang. 

Ngadiman menjelaskan, tindakan Bambang yang tidak memberikan hukuman kepada penjaga gawang Sragen United Andi Setiawan yang dengan sengaja menendang kepala Dedi Chayono Putro pada laga di Grup 4 Liga 2 di Stadion Taruna, Sragen, Minggu (30/4) sebagai sebuah kesalahan.

Tindakan yang dilakukan Andi memang mendapat sorotan tajam dari banyak pihak. Pasalnya, Dedi sempat pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. 

"Ada tindakan yang kami lihat merupakan tindakan yang tidak bisa ditolerir. Jelas, wasit itu kurang teliti, banyak yang tidak teramati sehingga pengambilan keputusannya tidak tepat," kata Ngadiman melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia, Kamis (4/5). 

"Wasit itu tidak akan dimainkan lagi untuk waktu yang belum ditentukan. Bisa jadi selamanya (tidak memimpin pertandingan) karena menyebabkan adanya korban," ujar Ngadiman. 

Kendati demikian, sejauh ini belum ada keputusan resmi terkait sanksi yang akan diterima oleh Bambang. Ia akan kembali berkoordinasi dengan Komite Wasit sebelum menjatuhkan vonis.

Namun, Ngadiman menegaskan pihaknya tak mau ada pembiaran terhadap wasit yang kinerjanya buruk. 

"Kami ingin hukuman ini bisa membuat semuanya jadi lebih hati-hati. Kejadian ini harus ditindak lanjuti. Seperti keinginan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi. Kalau memang tidak bagus, kenapa masih diperlihara?" 

Terkait tekanan dari pihak lain di luar lapangan yang dapat mempengaruhi keputusan yang diambil wasit, Purwanto tidak menampik hal tersebut. Ia mengakui bahwa tekanan itu pasti ada, namun sebagai seorang wasit profesional harus tetap konsentrasi menjalankan tugasnya memimpin pertandingan. 
Sementara itu, mantan wasit Indonesia Purwanto tak mau banyak komentar terkait ramainya keluhan dan protes yang dilayangkan kepada wasit yang memimpin beberapa pertandingan pada tiga pekan gelaran Liga 1 2017. 

Menurutnya, semua wasit yang memimpin pertandingan sudah diberikan arahan terkait materi regulasi law of the game yang digunakan untuk kompetisi. Tentunya, materi tersebut sudah merupakan materi terbaru. 

"Semua wasit pasti sudah melwati tes fisik dan materi peraturan yang digunakan. Lalu, tinggal bagaimana penerapannya. Paham tidak dengan aturannya? Berani tidak dia mengambil keputusan di lapangan?" kata Purwanto melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia, Kamis (4/5). 

"Apakah regulasi yang ada itu dijalankan? Selain itu yang tidak mudah, apakah dia konsisten dalam mengatur posisi di lapangan untuk memudahkan dalam setiap pengambilan keputusannya," ucapnya menambahkan.


"Yang lihat jelas, yang tahu kondisinya di lapangan itu kan wasit. Misalnya, ada pemain jatuh, apa itu langsung disebut pelanggaran? Kan tidak, harus dilihat jelas dan seobjektif mungkin," kata Purwanto. 
(ptr)

sumber: www.cnnindonesia.com/

Sunday, April 30, 2017

Dukung Persis Solo di Sragen, Ini Tiga Lokasi Kumpul Pasoepati

SOLO – Ribuan Pasoepati akan mendukung Persis Solo saat menghadapi Sragen United dalam lanjutan Liga 3 grup 4 di Stadion Taruna Sragen, Minggu (30/4/2017) sore.
Ada tiga lokasi titik kumpul Pasoepati sebelum bersama-sama berangkat ke Sragen.
Dikatakan Wakil Presiden Pasoepati, Ginda Ferachtriawan, tiga lokasi itu berada di pintu selatan Stadion Manahan Solo, sekitar Taman Jurug dan Ringroad Mojosongo. Rombongan akan bersama-sama menuju Sragen sekitar pukul 12.0 WIB.
“Panpel Sragen United sudah menghubungi jika kuota untuk Pasoepati ada 4000 tiket. Besok pagi tiket kita ambil dan diserahkan langsung ke masing-masing korwil. Jadi berangkat ke Sragen, teman-teman sudah bawa tiket,” terang Ginda, Sabtu (29/4/2017) sore.
Ginda menyebut, 4000 tiket sebenarnya lebih rendah dari animo Pasoepati yang ingin ke Sragen. Namun begitu, pihaknya juga memaklumi jika kapasitas Stadion Taruna yang hanya berkisar antara 6000-8000 orang.
“Semoga besok dalam perjalanan berangkat maupun pulang diberi kelancaran, dan pertandingan disaksikan dengan nyaman. Kami berharap pihak keamanan turut mengamankan perjalanan Pasoepati saat berangkat atau pun pulang,” tambahnya.
Terpisah, Ketua Panpel Sragen United, Andi Anamnova memastikan perizinan dari Polda Jawa Tengah sudah turun, Sabtu (29/4/2017) pagi tadi.
Rencananya, akan ada 300 personel dari kepolisian, 50 personel dari TNI dan keamanan internal yang disiagakan untuk menjaga pertandingan berjalan lancar.
“Tiket yang kami cetak sekitar 6500 lembar. Tiket terbuka dijual Rp 30 ribu dan tertutup Rp 45 ribu. Nantinya di setiap pintu masuk sudah disiagakan personel untuk mengecek barang bawaan penonton. Kami mengimbau agar penonton bisa datang dan pulang dengan tertib,” jelas Andi.
“Kami juga meminta maaf kepada suporter sragen United maupun Persis Solo jika nantinya ada yang tidak bisa masuk karena tiket sudah habis. Kami tidak mau menjual tiket melebihi kapasitas stadion. Tujuannya agar pertandingan berjalan lancar,” tambahnya.
Duel ini menjadi yang pertama sepanjang sejarah kedua kota di kompetisi profesional. Sebelum hadirnya Sragen United, klub PSISra Sragen banyak berkutat di kompetisi amatir.
“Ini sejarah bagi Sragen. Semoga pertandingan berjalan lancar dan kami bisa meraih hasil maksimal,” tutur Komisaris Sragen United, Indika Wijaya Kusuma.