Showing posts with label Sragenkab. Show all posts
Showing posts with label Sragenkab. Show all posts

Sunday, May 21, 2017

Nekat! 2 ABG Ini Sudah Mencuri Burung di 8 Lokasi sebelum Tertangkap

Kapolsek Gemolong AKP Supadi (tiga dari kiri) menunjukkan barang bukti burung dalam sangkar dan seorang tersangka di Mapolsek Gemolong, Sragen, Sabtu (20/5/2017). (Istimewa/Polsek Gemolong)
Pencurian Sragen, dua anak baru gede mencuri burung di delapan lokasi.
Solopos.com, SRAGEN — Tim Reserse Polsek Gemolong, Sragen, membekuk komplotan spesialis pencuri burung yang beranggotakan tiga orang. Dua orang di antaranya masih anak baru gede (ABG).
Mereka sudah beraksi di delapan lokasi dalam kurun waktu April-Mei 2017. Ketiga pencuri tersebut yakni Toni Kuncoro, 20, buruh asal Dukuh Kalangan Jago RT 004, Desa Kalangan, Gemolong, Sragen; CLP, 14, pelajar asal Gemolong; dan AH, 16, pelajar asal Tanon, Sragen.
Penanganan CLP dan AH dilimpahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Srgen. Kapolsek Gemolong, AKP Supadi, kepada Solopos.com, Minggu (21/5/2017) pagi, menyampaikan peristiwa itu berawal saat ada laporan Petrus Efendi Damanik, 37, warga Perumahan Gemolong Permai RT 010/RW 001, Kelurahan/Kecamatan Gemolong, Sragen, Jumat (19/5/2017) lalu.
Dia mengatakan pelapor menjelaskan burung-burung piaraannya hilang di rumahnya pada Senin (8/5/2017) malam. Dia menlanjutkan sekitar pukul 22.00 WIB, Petrus pulang dari arisan RT dan melihat burung-burung piaraannya masih ada.
Petrus pun menutup pagar dan pintu seraya menguncinya. Keesokan harinya, Selasa (9/5/2017) pukul 05.00 WIB, Petrus berangkat kerja tanpa curiga. Pada pukul 10.00 WIB, Petrus pulang dan mendapat laporan dari Kamti, 50, warga Candi RT 006/RW 004, Kelurahan/Kecamatan Gemolong bahwa burung-burung piaraannya hilang.
“Berdasarkan laporan korban [Petrus] itulah, kami langsung bergerak melakukan penyelidikan. Dalam waktu hanya 2 x 24 jam, kami bisa mengungkap jaringan pencuri itu. Setelah mengumpulkan bukti dan indikasi yang kuat, kami menangkap tiga orang tersangka. Kami menginterogasi mereka dan mereka mengaku sudah melakukan aksinya di delapan lokasi kejadian,” ujar mantan Kasatreskrim Polres Sragen itu.
Delapan lokasi yang menjadi sasaran aksi komplotan itu meliputi Perumahan Gemolong Permai Gemolong pada 11 Mei 2017 dengan hasil dua ekor lovebird. Lalu pada hari yang berbeda dengan lokasi yang sama, mereka mencuri seekor lovebird.
Di Dukuh Demak Kelurahan/Kecamatan Gemolong pada Selasa (2/5/2017), mereka mencuri dua ekor kenari, seekor burung jenis sirtu, seekor trucuk, dan seekor prenjak. Di Dukuh/Desa Nganti, Gemolong, pada Kamis (13/4/2017) mereka mencuri seekor kacer. Di Watugong, Desa Jenalas, Gemolong pada Kamis (9/3/2017) mereka mencuri seekor prenjak.
Di Desa Jatibatur, Gemolong, Selasa (2/5/2017), mereka mencuri seekor gelatik. Lalu di Dukuh Pilang, Desa Genengduwur, Gemolong, Kamis (18/5/2017), mereka mencuri seekor jalak; dan terakhir di Kampung/Kelurahan Gemolong, belum lama ini, mereka mencuri seekor pleci.
“Total burung yang dicuri mereka 17 ekor. Dalam aksinya mereka menggunakan sarana motor. Kami mengamankan tiga unit motor, yakni Honda Legenda berpelat nomor B 6366 TYK, Honda Vario berpelat nomor AD 2347 AHE, dan Honda Vario warna merah AD 6735 PEV,” ujar Supadi.
Supadi menjelaskan mereka mencuri itu untuk dijual dan hasilnya untuk makan. Dia mengatakan ada juga hasilnya penjualan burung itu dibelikan burung lagi yang lebih mahal. Mereka melakukan aksi kadang-kadang tiga orang bareng tetapi kadang-kadangan hanya dua orang.

Berduet, Ari Lasso Sebut Bupati Yuni Citra Lestari

Penyanyi Ari Lasso berduet dengan Bupati Yuni Sukowati saat menyanyikan lagu Aku dan Dirimu di panggung depan Pendapa Rumdin Bupati Sragen, Sabtu (20/5/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Ari Lasso dan Bupati Yuni berduet di Parade Musik Sukowati 2017.
Solopos.com, SRAGEN — Ribuan penggemar Ari Lasso berkumpul memadati halaman Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen. Penggemar Ari Lasso tak kalah dibanding penggemar OM Sera dan Via Valen di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen.
Mereka tak sabar menunggu aksi panggung penyanyi idola mereka. Jarum jam menunjuk pukul 22.00 WIB. Nama Ari Lasso disebut berulang-ulang.
Seruan nama itu semakin gemuruh terdengar hingga akhirnya berubah menjadi tepukan tangan saat suara emas Ari Lasso terdengar. Lagu Mengejar Matahari menjadi lagu pembuka Ari Lasso dalam aksi panggung bertajuk Sukowati Satu Cinta with Ari Lasso, Sabtu (20/5/2017) malam itu.
Lagu pertama itu memberi semangat tersendiri bagi warga dari berbagai umur yang tumplek blek di pendapa itu. Bupati Kusdinar Yuni Sukowati bersama suami dan Wabup Dedy Endriyatno bersama istri juga berada di tengah-tengah massa penggemar Ari Lasso.
“Terima kasih kepada Bupati dan selamat ulang tahun ke-271 Kabupaten Sragen. Mudah-mudahan kita tahu apa makna cinta dan arti cinta,” ujar Ari saat hendak melanjutkan ke lagu kedua, Arti Cinta.
Ari menyiapkan 40 lagu untuk menghibur penggemarnya di Bumi Sukowati. Ari baru kali pertama konser di Sragen. Prediksinya tentang penggemar di Sragen meleset.
Semua penggemarnya hafal semua lagu yang dinyanyikan Ari Lasso. Ari pun mengabadikan momentum itu menggunakan ponselnya.
“Prediksi saya meleset. Ternyata semua orang di Sragen hafal lagu-lagu saya. Saya rekam momentum ini dan akan saya unggah di media sosial pribadi saya agar dunia tahu tentang Sragen sebagai penggemar Ari Lasso. Tolong semua angkat ponselnya dan hidupkan lampu flash-nya! Tolong untuk lighting di panggung agak redup! Nanti kita bernyanyi bersama ya!,” serunya.
Setelah itu, Ari mengajak penggemarkan bernostalgia di era 1999. Ari mengajak warga Sragen terbang tinggi lewat lagunya Elang. Ketika melihat banyak penggemar yang datang bersama pasangan, Ari jadi ingat dengan lagunya tentang mantan pacar.
Ketika berbicara dengan pacar, kata Ari, jangan pernah menyebut nama mantan. Lagu itu dinyanyikan dengan berduet bersama Sintia, penyanyibacking vocal.
Di tengah-tengah konsernya, Ari memberi hadiah terindah untuk Sragen. Ari mengajak Bupati Yuni Sukowati untuk berduet bersama di panggung.
“Silakan bapak dan ibu untuk naik panggung! Ternyata masih muda ya. Yang muda sudah jadi Bupati dan Wabup, saya yang tua masih nyanyi terus,” katanya menyambut Yuni dan Dedy beserta keluarga.
Ari sempat menanyakan usia Yuni dan Dedy karena penasaran. Umur Bupati baru 43 tahun dan usia Dedy 42 tahun. Ternyata usia mereka terhitung sebaya dengan usia Ari Lasso. Mereka menyanyikan lagu Aku dan Dirimu secara duet.
Lagu itu dinyanyikan Ari Lasso berduet bersama Bunga Citra Lestari. “Sekarang teman duetnya Yuni Citra Lestari,” celoteh Ari yang disambut gelak tawa penonton.
Chemistry Ari dan Yuni terlihat saat bernyanyi. Suami Yuni, Akbar, sempat ikut bernyanyi dengan meminjam mikrofon Ari tetapi hanya sebentar. Dedy juga ikut bernyanyi juga.
Seusai duet, Yuni ingin menyapa warga Sragen. Yuni menyampaikan perayaan Hari Jadi ini bertepatan dengan setahun pemerintahan Yuni-Dedy.
“Ya, masih banyak pekerjaan rumah dan tugas yang harus diselesaikan. Kami mohon doa para warga Sragen. Mari kita bangun Sragen yang kita cintai ini dengan semangat guyub rukun. Mari kita tundukan kepala sejenak untuk berdoa demi kesejahteraan Sragen!” ujarnya.
Sebelumnya, Yuni bersama suami dan Wabup bersama istri melihat semua aktivitas panggung hiburan mulai dari Sragen Kulon hingga Sragen Tengah. Mereka berjalan kaki menyusuri Jl. Raya Sukowati sepanjang 1 km itu.
Yuni juga menyapa warga dengan bersalaman di sepanjang perjalanan. Ia mampir di panggung Cak Kirun di depan Pasar Sragen Kota dan panggung OM Sera dan Via Valen di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen hingga akhirnya di panggung Ari Lasso sampai tengah malam.

Wah, Pemulung Perempuan Ini Mencuri Kotak Amal!

Ilustrasi
SRAGEN—Seorang perempuan paruh baya, Sarni (45), warga Kampung Nglorog, Kelurahan Sragen, Sragen, digelandang ke Polsek Sragen Kota, Kamis (18/5/2017). Perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung itu diamankan setelah tertangkap basah mencuri kotak amal di sebuah rumah makan di Cantel Kulon.
Pelaku diamankan sekitar pukul 06.00 WIB saat beraksi menggondol kotak amal milik “Baitul Mal Peduli Sesama” di rumah makan milik M Partin Muslimin (40). Padahal, kotak amal itu diketahui hanya berisi uang Rp 90.700.
Informasi yang dihimpun di lapangan, aksi pencurian diketahui oleh Heri Sutopo (44), warga Kampung Cantel Wetan sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, ia curiga dengan gerak-gerik pelaku yang keluar dari rumah makan milik Partin dengan menenteng kotak berisi uang.
Tak lama berselang, pelaku terlihat memecah kotak dari kaca dan kayu itu tak jauh dari lokasi rumah makan. Seketika itu, ia langsung menghampiri pelaku dan menginterogasinya. Pelaku akhirnya tak bisa mengelak dan mengakui bahwa kotak amal itu baru saja diambilnya dari rumah makan milik Partin.
Kasubag Humas Polres Sragen, AKP Saptiwi mengatakan, pelaku selanjutnya diamankan di Polsek Sragen Kota. Sedangkan kotak amal berisi uang tunai Rp 90.700 itu diamankan sebagai barang bukti. “Dari hasil penyelidikan yang dilakukan di rumah pelaku dan keterangan warga maupun ketua RT, pelaku diduga mengalami gangguan jiwa,” jelasnya kemarin.
Karena pelapor sudah menerima dan menyadari pencurian itu serta tak mempermasalahkan, akhirnya pelaku dikembalikan kepada pihak keluarganya. Sementara, kotak amal berikut uang di dalamnya dikembalikan kepada terlapor. # Wardoyo

Pemkab Sragen Ajukan Banding Soal Sengketa Permintaan Tujuh Dokumen Proyek Jalan

ilustrasi pengadilan. Foto : mexicoinstitute
SRAGEN—Pemkab Sragen memastikan tak akan menyerah meski putusan sidang Komisi Informasi Provinsi (KIP) Jateng memenangkan gugatan yang diajukan aktivis LSM Mapan Sragen, Eko Heru Santoso terhadap Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.
Sebaliknya, tim Bagian Hukum sudah disiapkan untuk secara resmi mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas sengketa permintaan dokumen kontrak tujuh proyek jalan tahun 2016.
Kepastian itu disampaikan oleh Bupati Yuni melalui Sekda Tatag Prabawanto, Jumat (19/5/2017). Ia menyampaikan sudah menunjuk tim dari Bagian Hukum Setda untuk resmi mendaftarkan banding ke PTUN.
Langkah itu ditempuh lantaran bupati selaku termohon gugatan masih memiliki waktu 14 hari sejak putusan tanggal 10 Mei 2016, untuk melakukan upaya hukum lain.
“Sudah kami minta untuk didaftarkan banding ke PTUN. Yang jelas kami akan melakukan upaya perlawanan dan tidak akan begitu saja menerima putusan sidang KIP,” ungkapnya.
Tatag menguraikan, saat ini tim tengah melakukan proses penyusunan materi yang akan diajukan banding.
Menurutnya, banding dilakukan karena putusan KIP yang meminta termohon dalam hal ini bupati untuk memberikan semua dokumen kontrak dan lelang tujuh proyek jalan 2017 itu dianggap bukan pada tempatnya.
Selain pemohon bukan dalam kapasitas untuk meminta, ia juga menilai jika semua dokumen proyek pemenang lelang diberikan, maka dikhawatirkan justru menjadi preseden buruk.
Sebab dengan diperbolehkan meminta dokumen kontrak proyek pemenang lelang, tak menutup kemungkinan pihak-pihak yang tak berkepentingan ikut-ikutan meminta dan memanfaatkan dokumen itu untuk kepentingan lain.
“Padahal dokumen kontrak itu berkenaan dengan spesifikasi teknis milik rekanan yang itu sifatnya privat dan harus dilindungi oleh aturan juga. Lagi pula kalau alasannya untuk mengawal pelaksanaan, kan dinas teknis sudah ada ahli masing-masing yang mengawasi di lapangan,” jelasnya.
Terkecuali, menurutnya, jika memang dokumen itu diminta untuk kepentingan audit atau ada permasalahan oleh institusi yang berwenang mengaudit.
Karenanya, mewakili Pemkab, pihaknya tetap akan berjuang untuk mempertahankan argumen dan melindungi dokumen tersebut.
Sementara, Eko Heru Santoso menyampaikan, mengacu putusan sidang KIP Jateng pada 10 Mei lalu, Ketua Majelis, Handoko Agung memang memutuskan mengabulkan permohonannya dan memerintahkan bupati memberikan dokumen kontrak dan dokumen hasil lelang tujuh proyek jalan yang didanai APBD tahun 2016 kepada pemohon.
Wardoyo

Kisruh Lelang Proyek Jalan di Sragen, Ini Hasil Konsultasi ke Jakarta

Kondisi tronton yang terjebak dan terperosok lubang jalan rusak di jalur Sidoharjo-Tanon tepatnya di Ngrangging,Sidoharjo, sejak Sabtu (18/3/2017). Joglosemar/Wardoyo
SRAGEN—Menyusul kisruh lelang proyek jalan APBD 2017 yang sudah diadukan sampai pusat, tim dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Lembaga Pengadaan Barang dan Jasa (LPBJ) Sragen, secara diam-diam melakukan konsultasi ke Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) di Jakarta, Jumat (19/5/2017).
Dari konsultasi itu, diputuskan akan dilakukan evaluasi ulang terhadap dokumen persyaratan rekanan pemenang lelang yang oleh PPK dicurigai meragukan.
Kabar yang diterima Joglosemar, konsultasi ke LKPP kemarin melibatkan tim dari PPK, Staf Ahli Teknis DPU selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dan tim LPBJ.
si ke LKPP itu disampaikan sejumlah rekanan yang sudah dinyatakan menang lelang dan sampai kemarin masih menunggu keputusan.
“Sampai hari ini (kemarin) belum ada keputusan apakah akan diterbitkan SPPBJ atau tender ulang seperti yang dikemukakan kepala DPU. Kami masih menunggu, karena hari ini tadi (kemarin) informasinya PPK dan LPBJ konsultasi ke LKPP di Jakarta,” ujar pemilik PT Darmawangsa, Rahmat Samsono.
Saat dikonfirmasi, Kabag LPBJ Sragen, Tedy Rosanto membenarkan agenda konsultasi itu. Menurutnya, tim dari LPBJ-PPK dan DPU diterima oleh Subdit Penanganan Masalah LKPP bernama Linggar.
Dari hasil konsultasi, LKPP menyarankan untuk dilakukan evaluasi ulang yang melibatkan PPK dan LPBJ serta KPA terkait persyaratan milik rekanan pemenang lelang yang dicurigai meragukan.
Menurutnya, kemarin PPK-KPA juga sudah mengajukan surat ke LPBJ agar dilakukan evaluasi ulang, namun tidak ada pembatalan atau retender.
Sehingga, nantinya tim Pokja dari LPBJ akan diterjunkan kembali melakukan evaluasi ulang terhadap rekanan yang terindikasi menggunakan dokumen dukungan wiremesh ber-SNI palsu seperti yang dirumorkan.
“Kami juga tidak mau langsung retender karena itu tidak ada di Perpres. Dengan sudah ada surat dari PPK, kita akan panggil rekanan yang dokumennya mencurigakan. Kalau nanti terbukti dukungan SNI-nya palsu, bisa digugurkan dan di-blacklist,” terangnya.
Tedy menambahkan, evaluasi ulang akan lebih baik daripada hanya berpedoman pada rumor yang belum tentu kebenarannya.
Ia juga menegaskan, sesuai tupoksi tugas LPBJ dalam hal pelelangan memang hanya sebatas mencocokkan administrasi persyaratan yang di-upload oleh rekanan untuk dibuktikan keasliannya.
LPBJ tidak berwenang melihat secara detail sampai ukuran wiremesh karena yang lelangnya jasa konstruksi bukan lelang barang.
Wardoyo

Ingat Jeglongan Sewu, Warga Sambut Sinis Parade Musik Sukowati

Inilah panggung yang akan digunakan untuk konser Ari Lasso di Sragen, Sabtu (20/5/2017) malam. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
HUT Sragen dimeriahkan dengan perhelatan Parade Musik Sukowati.
SRAGEN — Sejumlah warga menanggapi sinis perhelatan akbar Parade Musik Sukowati yang menyuguhkan 12 panggung hiburan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen di sepanjang Jl. Raya Sukowati Sragen pada Sabtu (20/5/2017) malam nanti.
Panggung hiburan yang bakal dimeriahkan dengan penampilan sejumlah pesohor seperti penyanyi Ari Lasso, pelawak Kirun Cs, penyanyi jaz Sruti Respati, pedangdut Via Vallen bersama OM Sera dan sebagainya itu digelar sebagai rangkaian perayaan Hari Jadi ke-271 Kabupaten Sragen.
“Warga menyambut dengan senyum sinis tentang apa yang disuguhkan untuk memeriahkan Hari Jadi Sragen,” kata seorang warga Sragen, Fendi, 35, kepada solopos.com, Sabtu.
Dia mengatakan semua hiburan ada, warga bersuka cita seakan melupakan kenyataan pahit di Kabupaten Sragen, yakni banyaknya jalan rusak.
“Warga seperti disuguhi lantunan syair merdu penghilang rasa sakit di hatinya. Atau lagu-lagu hipnotis agar lupa dengan jeglongan sewu dan jalan yang kian hancur. Dikira warga tulus bahagia? Pikir dua kali. Hiburan sesaat itu cuma stimulus yang akan sirna kala tengah malam tiba. Setelah itu warga harus mengelus dada kembali melihat kenyataan yang ada,” ujarnya kepada solopos.com, Sabtu siang.
Dia berangan-angan andai semua hiburan itu diganti dengan kado indah jalan halus maka betapa bahagianya rakyat Bumi Sukowati.
Warga Sragen lainnya, El Birruni, menyatakan warga Sragen membutuhkan jalan bagus. “Itu [jalan bagus] cukup menjadi hiburan bukan malah hura-hura yang manfaatnya kecil,” imbuh dia.
Warga Sragen lainnya, Agus, mengajak Bupati Sragen dan seluruh warga untuk salat tahajud sebagai bukti syukur atas kemajuan Sragen.

Simpan Sabu, Mantan Caleg Nasdem Sragen Dwi Aprianto Karuniawan Digerebekersangka Dwi Aprianto Karuniawan alias Iwan, saat diamankan di Mapolres, Kamis (18/5/2017). Foto/Istimewa

Tersangka Dwi Aprianto Karuniawan alias Iwan, saat diamankan di Mapolres, Kamis (18/5/2017). Foto/Istimewa
SRAGEN– Tim Satres Narkoba Polres Sragen menangkap tersangka pengguna narkoba, Dwi Aprianto Karuniawan alias Iwan (36), Kamis (18/5) petang. Mantan calon anggota legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten Sragen asal Dukuh Randurejo RT 10/3, Puro, Karangmalang, Sragen itu ditangkap dalam sebuah penggerebekan di Jalan Kampung Dukuh Bendungan, RT 13, Desa Pilangsari, Ngrampal.
Tersangka yang sudah lama masuk daftar target operasi (TO) Polres itu ditangkap melalui penggerebekan dramatis saat tengah bertransaksi sabu dengan calon pelanggannya.
Informasi yang dihimpun di lapangan, penangkapan terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Bermula dari informasi adanya rencana transaksi sabu yang melibatkan tersangka di jalan kampung di Dukuh Bendungan, Pilangsari.
Saat dilakukan penggeledahan, petugas mengamankan satu plastic klip berisikan serbuk sabu seberat 0,5 gram yang disembunyikan di dalam celana pendek merek Nevada yang dikenakan tersangka.
Kemudian diamankan pula satu HP Xiaomi Redmi warna putih, sepeda motor Kawasaki D Tracker AD 2081 LE warna putih hijau yang dikendarai tersangka. Serta seperangkat alat hisap sabu berikut korek gas dan pipetnya.
Kasubag Humas Polres Sragen, AKP Saptiwi mengungkapkan tersangka saat ini langsung diamankan di Mapolres berikut barang bukti yang ditemukan. Saat ini tim masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka untuk mengungkap kemungkinan adanya tersangka lain.
“Tersangka sudah diamankan dan dalam pemeriksaan,” paparnya.
Sementara, Kasat Narkoba AKP Joko Satriyo Utomo menambahkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka bakal dijerat dengan pasal 112 subsider 127 UU No 35/2009 tentang Narkotika.
Untuk diketahui, Dwi Aprianto Kurniawan tercatat pernah maju dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 sebagai Caleg DPRD Kabupaten Sragen dari Dapil Kedawung, Ngrampal dan Karangmalang. Ia yang kala itu meraih suara terbanyak diantara Caleg Nasdem Dapil itu nyaris berhasil meraih kursi, sebelum akhirnya tersingkir secara dramatis setelah raihan suara total Nasdem kalah tipis dalam perebutan kursi sisa suara.
Nama Caleg yang akrab disapa Iwan itu juga sempat menggemparkan publik Sragen saat Pilkada 2015 lalu ketika ia mengunggah status di akun Facebooknya dengan menyebut ada 5.000 surat suara yang sudah tercoblos sebelum hari pemungutan suara. Wardoyo

Sunday, May 14, 2017

Naskah Soal Tiba, 14.300 Siswa SD/MI di Sragen Siap Ikuti UAS

Petugas Satpol PP dan polisi mengawasi proses distribusi soal UAS dari percetakan kepada panitia UAS di halaman Disdikbud Sragen, Sabtu (13/5/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
UAS untuk SD/MI dilaksanakan mulai Senin depan.
SRAGEN — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen telah menerima naskah soal ujian akhir sekolah (UAS) yang nantinya didistribusikan kepada 633 sekolah pada hari H. Soal UAS itu dicetak oleh PT Teguh Karya.
Puluhan lembar soal itu dikirim ke Disdikbud Sragen dengan menggunakan truk boks berpelat nomor AD 1382 UA. Truk boks tersebut tiba di halaman Disdikbud Sragen pada Sabtu (13/5/2017) pukul 08.00 WIB.
Mulai Senin (15/5/2017) hingga Rabu (17/5/2017), sebanyak 14.300 siswa sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) negeri/swasta se-Kabupaten Sragen bakal mengikuti ujian akhir sekolah/madrasah.
Kedatangan soal UAS itu disambut para pejabat Disdikbud Sragen, seperti Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Sragen Suharto didampingi Sekretaris Disdikbud Sragen Suwardi dan Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikbud Sragen Kusmanto. Perwakilan dari Kantor Kementerian Agama Sragen dan Dewan Pendidikan Sragen juga turut menyaksikan pembukaan segel itu.
Sekretaris Disdikbud Sragen Suwardi mewakili Disdikbud membuka segel truk boks tersebut secara simbolis yang disaksikan perwakilan aparat dari Polres Sragen dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen.
“Panitia sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk UAS. Ruang yang digunakan nanti sebanyak 1.003 ruang di 633 sekolah. Sebanyak 2.006 orang pengawas juga dikerahkan untuk mengawasi secara silang proses UAS yang diikuti 14.300 anak SD dan MI,” ujar Kusmanto saat ditemui solopos.com di Disdikbud Sragen, Sabtu siang.
Kusmanto menjelaskan mata pelajaran yang diujikan dalam UAS meliputi bahasa indonesia, matematika, dan ilmu pengetahuan alam (IPA). Hasil UAS itu, kata dia, menjadi syarat kelulusan siswa SD/MI. Dia mengatakan standar kelulusan siswa setiap sekolah berbeda-beda dan penentuannya diserahkan kepada sekolah masing-masing.
Kusmanto menyampaikan soal UAS dibuat oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dengan proporsi pemerintah pusat 25% dan provinsi 75%.
Terpisah, Kepala SDN 1 Girimargo, Miri, Samin, sudah menyiapkan 50 siswa kelas VI yang akan mengikuti UAS mulai Senin besok. Samin menyampaikan untuk persiapan UAS para guru sudah memberi tambahan jam pelajaran bagi siswa kelas VI pada sore hari.

Harga Bawang Putih Impor dari Tiongkok di Pasar Bunder Sragen Naik

Seorang buruh sibuk mengupas kulit bawang putih impor jenis kating di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (13/5/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Jelang Ramadan, harga bawang putih impor dari Tiongkok naik.
Solopos.com, SRAGEN — Harga bawang putih impor dari Tiongkok yang beredar di Pasar Bunder Sragen cenderung naik menjelang Bulan Puasa. Barang putih jenis kating dijual lebih mahal daripada bawang putih jeniscincau meskipun sama-sama bawang impor.
Bawang putih kating dijual dengan harga Rp52.000-Rp55.000 per kilogram sementara bawang putih cincau dijual Rp45.000 per kilogram.
Winarni, 47, seorang buruh kupas bawang asal Mojo Kulon RT 004/RW 007, Kelurahan Sragen Kulon, Sragen, mengatakan jarang-jarang mendapatkan bawang putih produk lokal tetapi semua bawang putih yang pernah dikupasnya merupakan produk impor dari Tiongkok. Dia mengaku telah bekerja sebagai buruh kupas bawang selama 20 tahun di Pasar Bunder.
“Biasanya juragan kulakan bawang putih impor itu dari Solo. Kadang sekali kulakan bisa sampai 50 karung atau setara dengan 1 ton. Kadang juga kulakan 80-100 karung. Merek produk impornya bermacam-macam. Namun semua merek itu tetap berasal dari Tiongkok. Apa ada bawang putih lokal? Adanya ya produk Tiongkok itu selama bertahun-tahun,” kata WinarniSabtu (13/5/2017).
Dia menyampaikan harga bawang puting kating sekarang mencapai Rp55.000. Padahal sebulan lalu, kata dia, harganya berkisar Rp35.000-Rp40.000 per kilogram.
Kalau untuk bawang putih jenis cincau, sebut dia, lebih murah yakni Rp45.000 per kilogram padahal sebelumnya sekitar Rp30.000 per kilogram. Winarni menyampaikan harga bawang putih itu naik karena tidak ada barang.
Pedagang bawang asal Made, Ngrampal, Sragen, Agung, 45, menyampaikan harga bawang putih kating pada dua hari terakhir turun Rp2.000, yakni dari Rp56.000 per kilogram menjadi Rp54.000 per kilogram. Namun harga sebelumnya hanya Rp35.000 per kilogram.
“Kami kulakan ke Solo dan gudang bawang di Solo kosong sehingga harganya melambung. Hal seperti biasanya terjadi menjelang Bulan Puasa,” tuturnya.
Pedagang sayuran asal Kampung Sungkul RT 012 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Nanik, 40, mengatakan selain bawang putih, harga komoditas sayuran yang ikut naik seperti cabai keriting dan cabai merah besar, yakni dari harga Rp20.000-Rp25.000 per kilogram menjadi Rp30.000 per kilogram.
“Cabai rawit serat masih stabil. Cabai rawit putih yang naik dari Rp22.000 per kilogram menjadi Rp26.000 per kilogram. Bawang merah stabil dengan harga Rp22.000 per kilogram,” ujarnya.

5 bulan di-PHK, 7 Kali di-PHP, Pesangon 43 Buruh Sulismatex Tunggu Penjualan Mesin

TUNTUT PESANGON–Puluhan mantan karyawan pabrik PT Sulistyawati Kusumatex (Sulismatex) Purwosuman, Sidoharjo, Sragen kembali menagih uang pesangon yang tak kunjung diberikan, Jumat (12/5).
SRAGEN—Harapan 43 karyawan PT Sulistyawati Kusumatex (Sulismatex), Purwosuman, Kecamatan Sidoharjo, korban PHK untuk mendapatkan hak pesangon secara utuh kembali harus tertunda.
Pasalnya, pihak perusahaan untuk ketujuh kalinya belum bisa memenuhi pembayaran pesangon secara penuh seperti yang dijanjikan.
Meski sudah menyanggupi bakal membayar lunas pesangon pada Jumat (12/5/2017) kemarin, namun pihak perusahaan baru sanggup membayar 65 persen pesangon. Sisanya kembali dijanjikan bakal dibayarkan dua pekan ke depan menunggu hasil penjualan mesin pabrik.
Fakta itu terungkap saat puluhan mantan karyawan pabrik tekstil itu menggeruduk bekas perusahaan mereka kemarin. Dalam aksinya mereka menuntut pembayaran pesangon yang sudah tujuh kali tertunda sejak pabrik dinyatakan bangkrut pada Desember 2016 silam.
Setelah didesak, pihak manajemen akhirnya mau mencairkan uang pesangon mereka. Akan tetapi yang dibayarkan baru Rp 6,9 juta per buruh dari jatah pesangon sebesar Rp 10,46 juta yang seharusnya diterima.
“Tadi (kemarin) sempat menunggu agak lama baru dibayarkan.  Itu pun masih kurang dan kekurangannya dijanjikan akan dibayarkan tanggal 26 Mei mendatang. Katanya menunggu hasil penjualan mesin dulu,” ujar SN, salah satu perwakilan buruh kepada Joglosemar.
Meski kecewa, menurutnya, ia dan rekan-rekannya tak bisa berbuat banyak selain hanya mengiyakan janji perusahaan.
Janji pelunasan kekurangan pesangon kemarin dituangkan dalam surat pernyataan yang dibubuhi meterai dan ditandatangani Dirut PT Sulismatex, Suhartanto dengan mencantumkan tujuh buruh sebagai saksi.
Mewakili rekan-rekannya, SN menuturkan, sebenarnya buruh sedikit kecewa karena pesangon belum bisa diterima utuh. Ia pun berharap perusahaan tak lagi mem-PHP karyawan dan melunasi kekurangan sesuai dengan pernyataannya.
Ia juga menyayangkan sikap Pemkab maupun dinas terkait yang terkesan kurang gereget memperjuangkan hak buruh. Pasalnya, selama hampir lima bulan di-PHK, buruh acapkali harus pasrah ketika perusahaan hanya menjawab dengan janji-janji.
“Bayangkan, kami sudah berjuang sejak awal Desember dirumahkan, katanya pesangon dijanjikan seminggu dibayarkan. Setelah ditagih, dijanjikan akhir Desember, lalu awal Februari, molor lagi Maret, sampai April, ditunda Mei. Ini juga masih kurang dan dijanjikan dua minggu lagi. Lima bulan di-PHK, tujuh kali di-PHP,” jelasnya.
Ia menegaskan akan terus menuntut hak kekurangan pesangon itu. Meski jumlahnya tak seberapa,  pesangon itu sangat berarti bagi mantan buruh yang kini sebagian masih menganggur.
Personalia PT Sulismatex,  FX Sugiyanto mengatakan pembayaran pesangon 43 buruh yang di-PHK kemarin memang belum bisa penuh. Masing-masing buruh baru bisa dibayarkan Rp 6,9 juta dari seharusnya Rp 10,46 juta.
Namun sesuai surat kesepakatan yang dibuat Dirut, kekurangan akan dibayarkan paling lambat dua pekan ke depan. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan lantaran hingga kini uang penjualan mesin pabrik juga baru dibayar uang mukanya.
“Dari pembeli mesin, baru membayar DP-nya sebesar Rp 300 juta dan tadi sudah dipakai untuk membayarkan pesangon.  Nanti kekurangannya menunggu pembayaran lagi. Tapi sudah disanggupi tanggal 26 Mei,” jelasnya.
Ia berharap para buruh lebih bersabar karena perusahaan juga sudah mengupayakan. Di bagian akhir, Sugiyanto juga berharap situasi ekonomi segera membaik sehingga masih ada kemungkinan pabrik bisa kembali bangkit dari keterpurukan. “Mohon doanya saja Mas,” tukasnya.
Ditambahkan, dari 48 karyawan tetap, lima orang yakni satpam dan personalia masih dipertahankan. Soal peluang apakah masih ada harapan beroperasi lagi, Sugiyanto mengaku belum bisa berkomentar.
Terpisah, hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Tenaga Kerja belum bisa dikonfirmasi. Namun sebelumnya, Plt Kepala Disnaker Sragen, Endang Handayani mengaku dinas sudah memediasi persoalan itu dan berharap perusahaan segera membayarkan pesangon para buruh.
Wardoyo

Antisipasi Teror dan Sabotase, Polisi Periksa 90 Kendaraan di Sragen, 18 Diberi Sanksi

Ilustrasi
SRAGEN—Tim gabungan Polsek-polsek di wilayah Sragen menggencarkan operasi terhadap kendaraan di sejumlah wilayah, Jumat (12/5/2017).
Sedikitnya 90 kendaraan roda dua dan empat menjadi sasaran pemeriksaan dengan 18 di antaranya dijatuhi sanksi.
Operasi kemarin dipusatkan di dua titik yakni di jalan Sragen-Batujamus tepatnya di Karangmalang dan di jalur Mondokan-Sumberlawang, tepatnya di jalur Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan.
Dalam razia yang digelar di Karangmalang melibatkan tim dari Polsek eks Kawedanan Sragen Kota yang meliputi Polsek Sragen Kota, Karangmalang, Kedawung, Masaran, dan Sidoharjo.
Menurut data yang dihimpun di Mapolres, razia yang digelar selama satu jam itu menghentikan 49 pengendara.
Rinciannya 35 unit sepeda motor, delapan unit mobil pribadi, satu bus penumpang, satu pikap, dan empat truk.
Dari hasil pemeriksaan, delapan pengendara ditemukan melakukan pelanggaran.  Namun dari delapan itu hanya tiga yang dijatuhi sanksi tilang, sedang lima lainnya hanya diberi teguran.
Sementara, dari operasi di wilayah Kedawung dan Mondokan, razia digelar dengan melibatkan tim gabungan dari Polsek Mondokan,  Sukodono, Gesi, dan Tangen.
Berdasarkan laporan dari tim, razia yang melibatkan 14 personel itu menghentikan 41 pengendara baik roda dua, empat, hingga mobil boks maupun truk.
Dari jumlah itu, tim menemukan 10 pengendara melakukan pelanggaran ringan dan dijatuhi sanksi berupa teguran.
Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso melalui Kasubag Humas AKP Saptiwi mengatakan, razia serentak digelar dalam rangka cipta kondisi.
Namun sepanjang operasi berlangsung, tim tidak menemukan adanya benda-benda terlarang seperti narkoba, bahan peledak, maupun senjata tajam.
“Tujuan dari operasi ini untuk menciptakan kondusivitas wilayah serta mencegah adanya terorisme, sabotase, dan tindak pidana lainnya. Operasi serupa akan terus digelar dalam beberapa waktu ke depan sampai mendekati bulan Ramadan,” jelasnya.
 Wardoyo

Sempat Menangis, Ini Yang disampaikan Sri Wahyuni, Pedagang asal Sragen Saat Bertemu Presiden Jokowi di Istana NegaraMomen saat Sri Wahyuni bertemu dan menyampaikan nadarnya di hadapan Presiden Jokowi di Istana Negara

Momen saat Sri Wahyuni bertemu dan menyampaikan nadarnya di hadapan Presiden Jokowi di Istana Negara, Sabtu (13/5/2017). Foto/istimewa
SRAGEN- Setelah menunggu hampir 21 hari, pedagang susu kedelai asal Sragen,Sri Wahyuni (46), akhirnya bisa memenuhi nadarnya bertemu Presiden Joko Widodo alias Jokowi, Sabtu (13/5/2017) siang. Pedagang asal Dukuh Karangasem, Banaran, Sambungmacan itu diterima Presiden di Istana Negara Jakarta, pukul 12.00 WIB.
Ibu satu anak itu berhasil menuntaskan nadarnya bertemu Presiden setelah menempuh jalan kaki Sragen-Jakarta sejak 21 April lalu. Wahyuni diterima di Istana Negara dan ditemui langsung oleh Jokowi.
Kepada Joglosemar, ia mengatakan dirinya diterima oleh Presiden di ruang tamu presiden. Saat pertama kali bertemu, Wahyuni langsung menjabat dan mencium tangan Presiden asal Solo itu.
Bersamaan dengan itu, tangisnya langsung pecah. Ia mengaku terharu dan senang akhirnya nadar yang dilontarkannya tiga tahun lalu sudah terbayarkan.
“Tadi diterima sekitar pukul 12.00 WIB. Saya nggak bisa nahan nangis, saking senengnya bisa ketemu Pak Jokowi. Seneng akhirnya nadar saya bisa lunas, ” paparnya via telepon.
Wahyuni menuturkan sekitar 10 menit dirinya diterima dan bercakap-cakap dengan orang nomor satu di negeri ini tersebut. Dia mengaku menyampaikan beberapa hal ke Presiden.
“Saya hanya bilang, kalau aksi jalan kaki ke Jakarta memang karena membayar nadar saya. Saya tadi juga sampaikan bahwa saya tinggal di Sragen dan punya usaha kecil-kecilan yaitu susu kedelai. Saya bilang agar Pak Jokowi bisa lebih memperhatikan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sragen dan UMKM di indonesia pada umumnya, ” tuturnya.
Setelah mendengar pesan itu, Presiden merespon dengan menanyainya apa lagi yang mau disampaikan. Wahyuni juga meminta agar suatu saat Presiden berkenan singgah ke gubug dan usaha susu kedelainya.
Wahyuni memulai aksi Jalan kaki ke Jakarta pada tanggal 21 April lalu.  Setelah dua pekan,  ia bisa menginjakkan kaki ke Jakarta.  Namun niatnya menuntaskan nadar sowan Presiden masih terkatung-katung karena harus membuat surat permohonan dan menunggu kesediaan maupun waktu longgar Presiden.
Selama sepekan terakhir menunggu panggilan menghadap,  dia terpaksa tidur di musala Mapolsek Metro Gambir. Sebelum akhirnya ia berhasil diterima Presiden Selasa (13/5/2017).(#Wardoyo) 

Di Halim, Presiden Jokowi dihadiahi ayam jago dari warga Sragen

Presiden Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma. ©Setpres RI/Laily
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima ayam jago dan sari kedelai dari seorang wanita asal Sragen, Jawa Tengah, Sri Wahyuni (46). Sri yakin ayam yang dibawanya memang pantas untuk Presiden.

"Saya bawa ayam jago, mudah-mudahan bapak 2019 bisa jadi Presiden lagi," kata dia, kepada Presiden Jokowi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, seperti dilansir Antara, Sabtu (13/5).

Sri datang ke Jakarta dengan berjalan kaki dari rumahnya di Dukuh Bolo, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan dan akhirnya pada hari ke-23 berhasil menemui Presiden secara langsung.

Sri pun menyerahkan ayam jago dan sari kedelai sekaligus meminta Presiden menandatangani 4 buku yang dibawanya. Salah satunya adalah buku agenda mengenai perjalanannya tersebut.

"Sampun nggeh, itu kalau mau foto-foto," kata Presiden dengan tersenyum kepada Sri.

"Saya mau ketemu bapak, sampai di Polsek Gambir saya ditujukkan cara ke Istana lalu saya ditampung di rumah simpatisan 'panjenengan' dari sana saya dijemput Komandan Irman lalu difasilitasi tidur di hotel," tutur Sri berkisah kepada Presiden.

Meski pertemuan itu tidak lebih dari 5 menit, Sri mengaku puas dapat memenuhi nazarnya.

"Karena waktu Pilpres 2014 saya punya nazar jika Pak Jokowi jadi presiden, saya berniat mau jalan kaki dari daerah saya sampai Jakarta sesudah Pak Jokowi dilantik 21 Oktober itu saya matur ke suami saya, tapi beliau tidak mengizinkan karena anak saya baru 4 tahun," kata Sri.

"Berhubung saya bernazar urusan ke Gusti Allah, saya jalankan walaupun di jalan rintanganya tidak karuan, saya disebut orang gila, stres, gembel, pengemis," kata Sri kepada wartawan seusai bertemu dengan Presiden.

Dalam perjalanan, ia membawa topi caping besar warna hijau yang dibuat suaminya bertuliskan 'Panas Udan Tak Lakoni'. Di atas caping direkatkan bendera merah putih berukuran mini. Sri juga membawa ransel yang ditempeli tulisan "Panas Udan Tak Lakoni Sowan Pak Jokowi".

"Saya bismillah mau bayar nazar, jadi urat malu 'tak' putus semua. Alhamdulilah saya selalu didampingi Polri, saya ada stempel surat setiap ke Polsek, Polres, masjid," tambah Sri.

Sri menuturkan untuk tidur ia menumpang di kantor polisi atau musala. Setiba di Jakarta ia menumpang di Polsek Gambir dan pada hari ketiga di sana ia bertemu dengan seorang simpatisan Presiden Joko Widodo bernama Hariyadi yang membantunya untuk bisa menunaikan nazarnya tersebut.

"Sebelumnya saya sudah ke Istana tapi tidak boleh masuk oleh Paspamres tapi saya 'ngeyel' supaya bisa masuk dan memang Paspamres memang hanya menunaikan tugasnya saja jadi dia itu bertindak benar dan Alhamdullilah akhirnya bisa menyerahkan surat ke Sekretariat Negara," ujarnya.

Rute yang ditempuh Sri adalah Sragen, Solo, Boyolali, Salatiga, Ungaran, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Brebes, Cirebon, Purwakarta, Cikampek, hingga Jakarta.

"Itu ayam yang sudah saya pelihara sejak dia kecil, tidak boleh dipotong. Sesampainya saya di Jakarta, suami mengantarkan ke Gambir dan ayam itu sejak pukul 03.00 WIB tadi berkokok terus sampai tadi(sampai di Halim), artinya ayam itu kan memang buat Pak Jokowi," ungkap Sri.

Ibu dari putri tunggal berusia 7 tahun itu juga hanya membawa uang Rp 777 ribu sebagai uang sakunya selama perjalanan dan saat ini ia masih menyisakan uang Rp 21 ribu.

Untunglah untuk tiket pulang ke Sragen ia sudah mendapatkan tiket pesawat yang diberikan oleh Presiden ditambah akomodasi semalam menginap di hotel.

"Tapi namanya orang kampung, saya malah tidak bisa tidur semalaman," kata Sri terkekeh.

[msh]

sumber: https://www.merdeka.com/